Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Promoter dan Makna Tersiratnya

Promoter tak hanya menjadi visi Kapolri. Promoter—Professional, Modern, Terpercaya—menjadi hastag atau tagline kegiatan polisi di Indonesia. Bahkan, masyarakat sipil yang bernaung dalam militan kepolisian, turut mengumandangkan visi Kapolri. Apapun yang dilakukan kepolisian—berdasarkan kegiatan yang diunggah di sosial media, nampak adanya  hastag bernama Promoter.

___

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana merupakan sosok yang ada di dalam buku ‘Jenderal di Garis Promoter’.

Promoter—ditekankan dengan menjalankan tugas pengabdian yang berlandaskan misi, komitmen, dan program prioritas. Adapun ketiadaan sikap professional atau modern, mungkin bisa ditolerir—bisa diperbaiki dengan belajar berdisiplin. Namun, apabila menyangkut kepercayaan—terlebih berhubungan dengan masyarakat, tentu tidak semudah membangun polri yang professional dan modern. Dari ketiganya, krisis kepercayaan yang dirasakan polri, merupakan pekerjaan rumah yang sulit diatasi ketimbang tujuan membangun polri yang professional dan modern. Pasalnya, rasa percaya sangat berhubungan dengan hati. Apapun yang berurusan dengan hati—terlepas sudah berusaha professional dan modern, masih belum cukup untuk mendapatkan rasa percaya.

Lakukan tugas dengan ikhlas, melayani masyarakat tanpa pamrih, humanis dalam melakukan tindakan kepolisian, profesi dimuliakan dan masyarakat disejahterakan berikut dengan tetap menjaga keharmonisan keluarga, merupakan aspek-aspek yang akan memberikan dampak pada pelayanan dan hasil. Terlebih bila dibalut dengan peradaban zaman yang sesuai dengan masyarakat, akan lebih memberikan dampak pelayanan yang lebih prima dan cepat. Dengan demikian, apabila institusi dan manusia Polri bisa menciptakan professionalisme di era peradaban masyarakat, niscaya akan membuahkan hasil berupa pelayanan terbaik untuk masyarakat. Tentunya, institusi berharap, dengan pelayanan yang telah disuguhkan dengan baik, terlahirlah pula kepuasaan dan pekercayaan masyarakat kepada Polri.

Di tengah zaman yang terus berkembang pesat—terlebih untuk mendapatkan public trust— Polri sudah seharusnya meningkatkan sikap professional dengan tidak mengapastiskan peradaban yang ada di tengah kehidupan. Tidak kolot dan kaku serta mampu bermetamorfosis, tetapi tidak keluar dari tugas dan fungsinya sebagai abadi Bhayangkara.

Professional adalah bentuk pelaksanaan dispiliner dan keberhasilan yang disesuaikan dengan hasil lembaga dan disepakati oleh masyarakat. Oleh karenanya, pengakuan professional, tidak bisa disepakati sepihak—Polri mengatakan kinerjanya sudah professional— tetapi masyarakat mengatakan sebaliknya.

Professional tak bisa diwujudkan apabila lembaga tidak membaur dengan peradaban. Lembaga yang professional akan meleburkan diri dengan perkembangan zaman. Mampu memahami dan benar-benar hadir di tengah masyarakat yang selalu berformasi dalam pergerakan zaman teknologi dan informasi. Begitupula dengan modernisasi yang harus dilakukan oleh Polri, maka layanan publik harus didukung teknologi dan ditingkatkan sistem kinerjanya—secara teknologi maupun SDM yang mengoprasikan teknologi tersebut.

Membangun publik trust, tentu lebih sulit ketimbang membangun professionalisme dan modern. Untuk menggapai public trust seperti yang diharapkan, tentu harus dimulai dari pembenahan kultur zona nyaman manusia-manusia yang ada di institusi. Kritis, inovatif, kreatif, dan terus memacu diri untuk menjadi manusia Polri yang unggul dan mumpuni.

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana mendampingi Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat berkunjung ke Kalimantan Selatan

Melakukan reformasi internal menuju Polri yang bersih dan bebas dari KKN, guna terwujudnya penegakan hukum yang obyektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan, adalah upaya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Untuk mendapatkan kepercayaan publik, polri harus pandai mengemas diri agar tidak melakukan ke-sembrono-an yang akan melahirkan stigma buruk masyarakat.

Di tengah kehidupan yang serba modern, tentu menjadi tantangan yang lebih berat. Ke-profesional-an Polri diuji serta dituntut bergerak lebih cepat di tengah kehidupan yang serba mengandalkan teknologi. Visi Kapolri menekan kepada anggota Polri untuk melek teknologi, tidak ketinggalan zaman, serta tanggap dan peka di mana masyarakat berada hingga di sosial media sekalipun. Oleh karena itu, guna mencapai serta mewujudkan visi dan misi Kapolri, dibutuhkan sumber daya manusia yang telah teruji, yang mampu menjawab tantangan dari masyarakat, menjaga kesatuan dan kedaulatan negara dengan profesionalisme yang tinggi, kecerdasan modernitas, hingga mampu melahirkan kepercayaan masyarakat.

Salah satu sumber daya organisasi yang memiliki peran penting mencapai tujuannya adalah sumber daya manusia. Begitupun suatu cara yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang unggul dalam persaingan—competitive advantage—adalah melalui peningkatan modal manusia—human capital—untuk dapat mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah.

Melalui visi Kapolri yang ingin membangun institusi Polri menjadi Profesional, Modern, dan Terpercaya, telah terlihat jelas bahwa institusi Polri sedang mencari pemimpin masa depan yang unggul dan mumpuni. Namun, begitulah kiranya, untuk menciptakan Polri ber-SDM unggul dan mumpuni, dibutuhkan manusia berkarakter Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonahyang semua itu selaras dengan makna tersirat dari Professional, Modern, dan Terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *