Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Promoter Antarkan Humas menjadi Pilar ke Enam Polri

– Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana –
Media adalah ruang publik sebagaimana elemen yang dapat mempresentasikan pemimpin opini masyarakat di tingkat lokal, nasional, hingga international
______________



Seiring lahirnya globalisasi dan informasi, kebangsaan dalam kebhinekaan di negeri ini mengalami kehangatan. Faktornya, tidak jauh berbeda dengan masa-masa lampau. Hanya saja—yang membedakan ‘suasana hangat’ era kini dengan masa lampau adalah sistem penyebarannya. 

Selain ditambah perbedaan pandangan terhadap politik, ‘suasana hangat’ yang masih menyelimuti negeri ini masih seputar hal yang sama; suku, ras, budaya, hingga agama.

Terlebih lagi, di era modern yang dimudahkan dengan teknologi dan informasi, sensitifitas yang harusnya dijaga, tak pelak mencuat ke permukaan media.

Faktanya, tatanan yang tadinya kondusif, aman, dan nyaman, sontak porak-poranda akibat ulah segelintir manusia yang telah mengoyak ranah sensitifitas yang selama ini telah dijaga. Tatanan kebhinekaan tak pelak ingin dihancurkan oleh isu-isu propaganda yang menjadi viral dan konsumsi umum.

Berbagai issu membuncah bak lahar gunung merapi membanjiri pelosok negeri, yang kemudian menyebabkan tatanan kebhinekaan rusak dikarenkan berita yang disebar oleh media yang diciptakan orang tak bertanggungjawab.

Globlalisasi dan reformasi yang diharapkan mampu memberikan wajah baru—mengubah keterikatan menjadi kebebasan—ternyata berdampak ke-bablas-an. Media dijadikan kepentingan segelintir manusia yang orientasinya jauh dari membangun peradaban. Bagi manusia tak bertanggungjawab—media hanya menebar kebohongan berikut mengumbar ujaran kebencian.

Kebebasan berserikat dan mengeluarkan aspirasi pun menjadi dalih atas apa yang ingin disuarakan hingga menanggalkan dampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Rupanya, orang-orang yang tak bertanggungjawab itu sudah tak peduli apabila negeri ini hancur. Yang mereka tahu dan mau, bersuara selantang-lantangnya dan berpendapat sekuat-kuatnya, kendati yang mereka suarakan belum tentu akan kebenarannya.

Reformasi menghadirkan kesuburan media layaknya jamur di musim penghujan. Cetak maupun online bermunculan seiring kebebasan pers yang telah ditetapkan. Kemerdekaan menyatakan pendapat di muka umum, kembali menjadi senjata pamungkas, agar negara tidak bisa memasung dan membatasi kemerdekaan bersuara dan berpendapat.

Pemenggalan kata dan video yang telah terjadi, merupakan suatu bukti bahwa media dapat menyebabkan kegaduhan yang cukup besar apabila dipegang oleh orang salah dan picik. Dampaknya, dari berita yang hanya seribu kata maupun video berdurasi beberapa menit—yang kemudian diedit atau dipenggal, tak pelak  membangkitkan kemarahan massa hingga bermuara pada porak-porandanya ketenangan dan mengoyak ketertiban bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di era reformasi dan informasi, media telah melahirkan fenomena baru dari rahim  kebebasan berserikat dan berpendapat. Fungsi demokrasi telah menempatkan peran media sebagai bagian dari pilar demokrasi selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Media merupakan pilar ke empat demokrasi yang memiliki keistimewaan sebagai medium untuk mengontrol dan mengawasi pemerintahan, membentuk pola-pikir masyarakat, dan sarana yang mampu turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataannya, alih-alih menjadi the forth democraty, tak sedikit media malah dipergunakan untuk memporak-porandakan nilai dan fungsi media sebagaimana mustinya.

Gangguan kamtibmas itu tak hanya seputar kriminalitas belaka. Keresahan dan kemarahan masyarakat yang didapat dari suguhan berita tak bertanggungjawab, juga dapat menyebabkan terganggunya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kelangsungan hidup bermasyarakat.

Adanya komunikasi tentu dapat memberikan informasi dan begitupun sebaliknya. Penyampaian informasi membutuhkan komunikasi yang baik agar informasi yang disampaikan bisa diterima dengan tepat sasaran. Terlebih lagi, hadirnya informasi di dunia maya, yang diterima masyarakat tanpa filter, yang kemudian menyebabkan semerawut-nya kehidupan berbangsa dan bernegara. Lihat saja, bagaimana komunikasi di sosial media.

Informasi yang benar, belum tentu diterima dengan baik bila tak ada kelancaran berkomunikasi—bisa disebabkan tak tepat penulisan berikut peletakan tandabaca sehingga informasi yang benar bisa menjadi salah arti.

Perihal kelancaran komunikasi bukan diharuskan di sosial media saja. Kelancaran komunikasi juga harus berlaku pada dunia nyata. Memang, antara komunikasi di dunia maya dan nyata lebih sulit di dunia maya. Sebab, komunikasi dunia maya membutuhkan kejelian penulisan dan tepat dalam menerapkan tanda baca agar tak terjadi kesalahpahaman dalam menerima informasi—kekurangan teliti penulisan terdapat juga di media berita—terlebih baru lahir dan provokatif. Beda halnya dengan komunikasi di dunia nyata. Dengan melihat raut wajah dan merasakan intonasi penyampaian, kesalahpahaman lebih bisa diminimalisir. Oleh karena itu, agar terwujud kelancaran yang berkesinambungan diperlukan komunikasi yang baik dan benar sehingga informasi yang disampaikan bisa diterima sesuai harapan.

Kehadiran media merupakan medium yang dapat dijadikan lalu-lintas penghantar pesan antar unsur. Media merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi kestabilan atau kegoyahan tatanan kehidupan suatu bangsa. Media adalah ruang publik sebagaimana elemen yang dapat mempresentasikan pemimpin opini masyarakat di tingkat lokal, nasional, hingga international. Banyak peran yang dapat dilakukan oleh media. Selain ruang publik yang menghadirkan sosial, politik, hingga budaya, media memberikan kontribusi pembangunan ekonomi untuk masyarakat maupun pemerintah.

Tentunya, saya sangat sependapat dengan Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, tentang betapa pentingnya peran humas, yang kemudian oleh beliau dijadikan sebagai pilar ke enam fungsi utama Polri. Di kelembagaan—termasuk Polri—bagian yang harus memperhatilkan pentingnya komunikasi adalah Hubungan Masyarakat. Sebagai ujung tombak penyampaian informasi lembaga kepada masyarakat, Humas tak boleh menyepelekan komunikasi yang baik dan benar.

Rancaunya infrormasi dan buruknya sinergitas antara lambaga dan masyarakat, kini menjadi tanggungjawab humas sebagai bagian penting keenam fungsi utama Polri. Oleh karenanya, setelah mendapat peresmian dari Kapolri terkait masuknya humas sebagai bagian fungsi utama Polri, Humas harus dapat membangun kepercayaan publik dengan tetap mengedepankan sikap professional, modern, dan terpercaya.

Untuk menjaga stabilitas Kamtibmas, terlebih di era revolusi industri yang serat akan teknologi dan informasi, peran humas Polri dan media memang tidak dipisahkan. Pendek kata, Polisi punya senjata, media punya aksara. Keduanya, bisa dikatakan memiliki fungsi yang tak jauh berbeda. Dengan sejata maupun aksara, sejatinya dapat dipergunakan untuk menjaga dan menciptakan Kamtibmas. Untuk itulah, Kapolri mengantarkan humas menjadi bagian keenam Polri selain Reserse, Intel, Sabhara, Lalu-lintas, dan Binmas.

Tag ,,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *