Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Polri Mencari Bibit Unggul dan Mumpuni

Di era globalisasi, suka atau tidak, Polri harus menaruh perhatian intensif terhadap keberagaman, memiliki pemikiran terbuka, kemauan yang konstan untuk menerima perubahan, serta kemampuan dalam menggunakan  berbagai saluran distribusi— Inspektur Jendral Polisi Rachmat Mulyana, Polri Menjawab Tantangan

-oOo-

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang suatu perubahan. Menurut Brian Clegg, perubahan merupakan suatu kekuatan yang sangat hebat, yang dapat memotivasi atau mendemotivasi. Begitupun apa yang disampaikan oleh Jane Flagello, perubahan adalah pertumbuhan, kesempatan, dan peningkatan potensi. Barack Obama juga tak kalah menyampaikan tentang suatu keniscayaan itu. Menurut mantan Presiden Amerika Serikat itu, Change is possible because ordinary people do extraordinary things. Namun demikian—dari sekian pendapat para ahli—keniscayaan melakukan perubahan sangat jelas difirmankan Allah SWT : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka.

Bila demikian—merujuk pendapat para ahli tentang perubahan—terlebih ditekankan atas perintah Tuhan, maka perubahan yang terjadi merupakan keharusan yang diupayakan oleh manusia secara pribadi, organisasi, bahkan negara, untuk menuju perubahan yang melahirkan visi dan misi bermanfaat. Namun demikian, sebaik apapun visi dan misi dihamparkan, tentu akan hambar bila tidak dijalankan. Walau bagaimana pun, mewujudkan visi dan misi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, untuk mendapatkan kepercayaan dan kemanfaatan.

Seperti halnya disampaikan Irjen Pol. Rachmat Mulyana, perubahan di dalam internal Polri harus dilakukan. Polri harus berani berbenah. Menata dan me-refresh, bahkan mengganti manusia kurang mumpuni dengan insan Tribrata yang teruji dan mampu membawa institusi Polri ke arah citra yang baik.

Di tengah kehidupan yang serba modern, tentu menjadi tantangan yang lebih berat. Ke-profesional-an Polri diuji serta dituntut bergerak lebih cepat di tengah kehidupan yang serba mengandalkan teknologi. Visi Kapolri menekan kepada anggota Polri untuk melek teknologi dan tidak ketinggalan zaman, serta tanggap dan peka hingga di sosial media sekalipun.

Guna mencapai serta mewujudkan visi dan misi Kapolri, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang telah teruji, yang mampu menjawab tantangan dari masyarakat, menjaga kesatuan dan kedaulatan negara dengan profesionalisme yang tinggi, kecerdasan modernitas, hingga mampu melahirkan kepercayaan masyarakat.

Salah satu sumber daya organisasi yang memiliki peran penting dalam mencapai tujuan adalah sumber daya manusia. Begitupun suatu cara yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang unggul dalam persaingan (competitive advantage) adalah melalui peningkatan modal manusia (human capital) untuk dapat mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah.

Berbicara perihal kepemimpinan atau leadership, tentu tidak akan pernah ada habisnya. Kepemimpinan tak ubah anak remaja berbicara cinta. Tak akan pernah habis dimakan masa. Setiap orang memiliki pendapat atau prespsi tentang kepemimpinan. Namun, bukan itu yang diinginkan. Bukan sekadar arti maupun retorika atas kepemimpinan yang dibutuhkan organisasi ataupun tingkat negara.

Setiap orang mendambakan menjadi pemimpin. Namun, terlepas itu semua, menjadi seorang pemimpin bukan perkara mudah. Suka atau tidak, tahap demi tahap harus dilakukan untuk menjadi pemimpin unggul. Tidak hanya pandai dan mahir dalam segi intelektual semata. Seorang pemimpin juga diharuskan mahir dalam mengelola seni emosional dan spiritualnya. Tidak mungkin menjadi pemimpin, apabila di dalam dirinya tidak memenuhi karakter, tidak peduli, tidak berani, apatis, otoriter, mementingkan diri sendiri, yang semua itu disebut dengan krisis kepemimpinan.

Pemimpin yang lemah akan menyebabkan kelemahan pada organisasi yang dipimpinnya. Efektivitas dari kelemahan dapat dipastikan tujuan dan target organisasi tidak akan berjalan dengan baik. Untuk membawa organisasi profesional, modern, dan tepercaya, Polri harus meningkatkan pembinaan dan pengelolaan sumber daya manusianya, agar kelak dapat dijadikan pemimpin yang unggul dan berkarakter. Bukan sekadar pemimpin yang hanya bisa jarkoni—iso ngajar tapi ndak iso ngelakoni—bisa mengajar tapi tidak bisa menjalankan.

Seseorang bisa dikatakan pemimpin, apabila di dalam kepemimpinannya menghadirkan sikap dan sifat berkarakter, memiliki kejujuran dan yang lebih penting adanya kepercayaan dari anak buah dan juga masyarakat. Pemimpin semacam ini pastinya akan memimpin dengan tindakan, bukan hanya sebatas ucapan. Bahkan—tidak boleh tidak—seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang dapat bekerjasama dengan anak buah yang kemudian dari kerjasama itu melahirkan rasa tumbuh diri anak buah secara individu maupun tim

Tak perlu menunggu punya anak buah untuk menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin yang baik dan berkarakter dapat diterapkan di dalam memimpin diri sendiri, agar kelak apabila organisasi membutuhkan sudah siap pakai—bukan baru siap belajar menjadi pemimpin—ketika organisasi membutuhkan pemikiran dan kinerjanya. Oleh karena itu, ciptakan sifat dan mental pemimpin dalam diri terlebih dahulu untuk menyongsong menjadi pemimpin  skala besar—menjadi pemimpin Polri yang unggul, mumpuni, kompetitif, yang selalu berjalan dan bermuara di Garis Promoter.

“Polri harus  berpandangan dan berpikiran terbuka, dinamis, serta selalu mengikuti situasi dan perkembangan zaman. Meski di saat bersamaan, tidak boleh hanyut apalagi menjadi korban zaman”—Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana, Polri Menjawab Tantangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *