Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Polri Membutuhkan Manusia Unggul dalam Terobosan

Manusia-manusia unggul itulah yang mampu bertanggungjawab atas apa yang diamanatkan oleh negara. Manusia yang selalu taat kepada peraturan dan menjalankan dengan sepenuh jiwa, kendati tidak nampak di mata pimpinan.  
Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

Menjadi pemimpin tak hanya membutuhkan seni kepemimpinan semata. Menjadi pemimpin membutuhkan banyak hal—yang salah satunya—memiliki sumber daya yang pantas dijadikan pemimpin. Menjadi pempinan itu membutuhkan proses panjang agar layak disebut pemimpin. Untuk menjadi pemimpin dibutuhkan experience dan harus memiliki kemampuan manajemen, sebagaimana inti dari kepemimpinan adalah mengambil keputusan yang memerlukan referensi dan kepekaan. Menjadi pemimpin harus positioning; mampu menganalisis apa yang terjadi dengan membuat perubahan yang berbeda, tapi tetap dalam ranah positif.

Tentunya, menjadi keharusan dilakukan oleh para pemangku kebijakan. Menyamakan langkah, menyelaraskan pandangan atas kebijakan sesuai visi Promoter Kapolri. Tidakhanya pada pemangku kebijakan hal itu berlaku. Setiap insan Tribrata—dari atas hingga akar rumput—bahkan hingga Kapolri—wajibkan menjalankan apa yang menjadi visinya—yang secara otomatis menjadi visi institusi Tribrata.

Semua manusia pastinya ingin menyandang gelar profesional. Ingin diakui atas kerja yang telah dilakukan. Begitupun pada hakikatnya manusia di muka bumi ini. Tak ada seorang pun yang rela disebut tidakprofessional maupun kampungan. Terlepas dari hal tersebut,  yang paling penting dan ingin didapatkan manusia adalah kepercayaan yang datang dari luar dirinya.  

Seorang pemimpin sangat menyadari, untuk membangun karakter profesional, memang tidak dapat dibangun semalam. Begitupula dengan peradaban yang kini disebut modernitas, membutuhkan beribu tahun untuk melihat dan merasakan fungsi dari sebuah teknologi, yang kini telah menghamparkan berbagai informasi sehingga hoax maupun hate speech pun bertebaran.

Kasus demi kasus yang dirangkai melalui pemberitaan hingga berujung tanggapan, rasanya terus mengalir di pelbagai media. Ke-profesionalis-an Polri pun semakin diuji dengan hadirnya kecanggihan teknologi dan mudahnya mengakses informasi. Kepercayaan publik yang terus diupayakan pun menjadi tanda tanya besar di tengah menggilanya peradaban yang seolah tanpa batas dalam beranggapan.

Menyerah dan pasrah bukan suatu jawaban

Kendati terus mengalir stigma kurang baik akan citra institusi kepolisian, terus berjalan dan berbenah adalah jawaban atas tantangan berikut pembuktian di tengah tekad polri untuk menjadi institusi yang berisi manusia profesional, modern, dan terpercaya.

Profesional, modern, dan terpercaya, tidak cukup hanya dalam untaian kata. Ketiga pondasi yang dihamparkan Kapolri, masih harus diperas untuk diambil inti sarinya.

Nyaris, semua orang bisa profesional. Bisa modern dan bahkan bisa terpercaya. Namun, bisakah hal itu bertahan? Seberapa lama keprofesionalan, modernitas, berikut kepercayaan bisa dipertahankan?

Layaknya film pertualangan ataupun pendakian. Kendati di awal pemberangkatan terdiri banyak orang, akan tetapi di tengah perjalanan, tidak semua dari mereka bisa bertahan. Semua orang bisa memulai, tapi tidak semua orang bisa bertahan. Apalagi, berhasil menduduki puncak tujuan. Mengapa demikian? Karena setiap tujuan memiliki halang-rintang, termasuk halang-rintang Polri membumikan promoter sebagai visi Kapolri.

Unggul dan kompetitif!

Dibutuhkan sifat unggul dalam melaksanakan promoter. Apapun yang dilakukan—harus dilakukan secara sistematis dan mengarah kepada visi Kapolri.  Untuk itu, tidak boleh tidak. Anggota Polri harus mempunyai sifat dan sikap unggul dan kompetitif.

Diakui atau tidak, hidup merupakan suatu kompetisi untuk menjadi lebih baik. Menjadi manusia unggul jika dibandingkan dengan manusia lainnya. Terlepas dibutuhkannya manusia Tribrata yang memiliki sikap dan sifat promoter, namun tak menampik manusia unggul-lah yang paling dicari dan dibutuhkan untuk menjadi pemimpin masa depan institusi Polri.  

Semua kembali kepada Sumber Daya Manusia. Bertahan, kuat, tegar, tahan uji, intregritas, loyalitas, dedikasi, serta memegang teguh sumpah setia kepada kebenaran dan keadilan atas nama institusi maupun personality, hanyalah dimiliki oleh mereka yang memiliki keunggulan.

Manusia-manusia unggul itulah yang mampu bertanggungjawab atas apa yang diamanatkan oleh negara. Manusia yang selalu taat kepada peraturan dan menjalankan dengan sepenuh jiwa, kendati tidak nampak di mata pimpinan.  

Bagi manusia unggul, apa yang dilakukan merupakan sebagai tugas bakti dan persembahan untuk negeri dan sebagai sarana mengabdi kepada Tuhannya. Dan, agar Promoter bisa bertahan dengan kekal dan abadi, maka Polri membutuhkan manusia yang unggul.

Unggul menjalankan tugas, unggul menghadapi dan menjawab tantangan zaman, serta unggul menjadi kepercayaan masyarakat. Jika hal itu bisa dilakukan dan diterapkan oleh segenap anggota Polri, khususnya pemimpin masa depan Polri,  niscaya Promoter bisa bertahan kekal. Oleh karenanya, mari menjadi manusia yang siap berkompetisi menjadi lebih baik dengan terus mengasah diri agar menjadi manusia yang unggul tanpa harus keluar dari  garis Promoter.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *