Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pengaruh Media untuk Peradaban Bangsa

Gangguan kamtibmas di era teknologi dan informasi tidak hanya terjadi melalui permasalahan yang nampak seperti halnya pencurian atau kasus lainnya.  Permasalahan atau konflik di era teknologi dan informasi, bisa terjadi hanya dengan mem-forward  berita yang kurang bertangungjawab. Jika dulu terkenal pepatah, ‘mulutmu adalah harimaumu’, maka seiring perkembangan sosial media, berikut kegandrungan masyarakat dengan media interaksi itu, pepatah pun menjadi berubah : Jarimu adalah harimaumu.

Penyebaran berita hoax, tidak boleh dianggap sepele . Tak hanya sekadar himbauan agar masyarakat bijak dalam bersosial media dan cerdas menggunakan jarinya. Kepolisian menetapkan sangsi bagi mereka yang tak bijak mempergunakan jemarinya. Bagi mereka yang tetap apatis terhadap himbauan tersebut, maka bersiaplah disuguhi menu dari undang-undang ITE yang telah ditetapkan. Dan, polri siap menjadi ‘pelayan’ bagi masyarakat yang tetap membandel menyebarkan berita hoax dengan beberapa menu yang ada  di UU ITE.

Seiring perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses informasi, berbagai fenomena kebangsaan  juga tidak luput menghangat. Bahkan, di beberapa wilayah negeri ini, telah terjadi anarkis yang disebabkan senggolan sensitifitas perihal suku, agama, ras, dan budaya, antar sesama anak bangsa. Tatanan yang tadinya cukup kondusif, aman, dan nyaman, sontak porak-poranda akibat ulah segelintir manusia yang telah mengoyak ranah sensitifitas yang selama ini dijaga. Tatanan kebhinekaan, dihancurkan oleh isu-isu propaganda yang menjadi viral dan menjadi konsumsi umum.

Globlalisasi dan reformasi yang diharapkan mampu memberikan wajah baru, ternyata berdampak pada ke-bablas-an.  Tak sedikit fungsi media dijadikan kepentingan segelintir manusia yang orientasinya jauh dari membangun peradaban.

Kebebasan berserikat dan mengeluarkan aspirasi pun kemudian menjadi dalih atas apa yang mereka suarakan, tanpa mempedulikan bahwa suara mereka, berdampak bagi kondusifitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang mereka tahu dan mau, bersuara selantang-lantangnya dan berpendapat sekuat-kuatnya. Entah benar atau salah, itu menjadi nomor urutan wassalam.

Reformasi menghadirkan kesuburan media layaknya jamur di musim penghujan. Cetak maupun online bermunculan seiring kebebasan pers yang telah diputuskan. Kemerdekaan menyatakan pendapat di muka umum, kembali menjadi senjata pamungkas, agar negara tidak bisa memasung dan membatasi kemerdekaan bersuara dan berpendapat.

Di era reformasi, media menduduki peran yang sangat penting dan istimewa. Selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif, media disebut sebagai pilar ke empat demokrasi yang memiliki keistimewaan sebagai medium untuk mengontrol dan mengawasi pemerintahan, membentuk pola-pikir masyarakat, dan sarana yang turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan, tak sedikit media yang justru berperan sebagai penghancur sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada akhirnya, gangguan kamtibmas tak hanya seputar kriminalitas belaka, keresahan dan kemarahan masyarakat yang didapat dari suguhan berita kurang bertanggungjawab, juga dapat menyebabkan terganggunya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kelangsungan hidup bermasyarakat.

Mari menjadi bangsa yang bijak berpendapat, bersuara, dan bersosial media.

***

Tag ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *