Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pengaruh Media untuk Peradaban Bangsa

Pada akhirnya, gangguan kamtibmas tak hanya seputar kriminalitas belaka, keresahan dan kemarahan masyarakat yang didapat dari suguhan berita kurang bertanggungjawab, juga dapat menyebabkan terganggunya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kelangsungan hidup bermasyarakat.

Sebenarnya, tak ada ilmu hitam di dunia ini. Hitam dan putih suatu pengetahuan, semua kembali kepada si pemegangnya. Semua ilmu pada dasarnya adalah putih atau bisa disebut ilmu kebaikan atau kebenaran.


Irjen Pol Drs. Rachmat Mulyana bersama Pimpinan umum Banjarmasin Post, HG (P) Rusdi Effendi AR


Namun, seiring watak manusia yang dipenuhi  iri, serakah, dendam, maka seiring itupula fungsional keilmuan berubah menjadi hitam—dipergunakan untuk keburukan ataupun kejahatan. Begitupula dengan daya cipta, kreasi, penemuan, hingga terlahirnya wahana yang awalnya diciptakan untuk kemanfaatan, bisa berubah di tangan manusia yang tak bertanggungjawab.

Segala bentuk ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, tak lain bersumber dari Sang Pencipta—dan Ia tak mungkin mengajarkan keburukan kepada hamba-Nya. Hanya saja, dengan akal dan pikirannya, ilmu yang dasarnya untuk kemaslahatan, acap kali disalahgunakaan oleh manusia.

Telah banyak bukti merebak. Tak sedikit ilmu yang tadinya suci, dinodai untuk kepentingan pribadi atau golongan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya dipergunakan untuk kebaikan dan kemanfaatan, berbuah menjadi pengetahuan yang dipergunakan untuk saling serang, hujat, bahkan memicu peperangan dan kehancuran suatu peradaban.

Tak usah berpetualang mencari pembuktian atas ilmu pengetahuan yang kini banyak disalahgunakan. Perkembangan zaman yang semakin modern, serta teknologi yang telah menjadi kebutuhan, menyalahgunakan ilmu pengetahuan dan informasi sangat mudah dilakukan kendati jarak berjauhan. Kemudahan teknologi yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemajuan, berubah fungsi menjadi teknologi yang dipergunakan untuk saling menghancurkan. Memang, kendati bukan fisik, berita hoax yang disebarkan, tentu merusak jiwa dan pikiran, bukan?

Berita hoax tak hanya melanda ibukota yang didapuk sebagai pusat kemegahan. Berita bohong atau provokatif, juga menjadi konsumsi masyarakat akar rumput di tengah kecanggihan teknologi yang ada di genggamannya.

Perkembangan teknologi dan informasi—selain berdampak memberi kemudahan melakukan pekerjaan—ternyata juga berdampak pada kehancuran jiwa, pikiran, dan moral pengguna bila tidak bijak menggunakan alat bernama teknologi itu.  Faktanya, sosial media yang tercipta—yang tadinya ditujukan sebagai sarana interaksi dengan kaum kerabat yang berjauhan—berubah menjadi sarana saling menghancurkan kejiwaan dan pikiran antar pengguna.  Merebaknya berita hoax, akhirnya mengalir ke pelosok desa yang terbilang jauh dari ibukota.

Gangguan kamtibmas di era teknologi dan informasi tidak hanya terjadi melalui permasalahan yang nampak seperti halnya pencurian atau kasus lainnya.  Permasalahan atau konflik di era teknologi dan informasi, bisa terjadi hanya dengan mem-forward  berita yang kurang bertangungjawab. Jika dulu terkenal pepatah, ‘mulutmu adalah harimaumu’, maka seiring perkembangan sosial media, berikut kegandrungan masyarakat dengan media interaksi itu, pepatah pun menjadi berubah : Jarimu adalah harimaumu.

Penyebaran berita hoax, tidak boleh dianggap sepele . Tak hanya sekadar himbauan agar masyarakat bijak dalam bersosial media dan cerdas menggunakan jarinya. Kepolisian menetapkan sangsi bagi mereka yang tak bijak mempergunakan jemarinya. Bagi mereka yang tetap apatis terhadap himbauan tersebut, maka bersiaplah disuguhi menu dari undang-undang ITE yang telah ditetapkan. Dan, polri siap menjadi ‘pelayan’ bagi masyarakat yang tetap membandel menyebarkan berita hoax dengan beberapa menu yang ada  di UU ITE.

Seiring perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses informasi, berbagai fenomena kebangsaan  juga tidak luput menghangat. Bahkan, di beberapa wilayah negeri ini, telah terjadi anarkis yang disebabkan senggolan sensitifitas perihal suku, agama, ras, dan budaya, antar sesama anak bangsa. Tatanan yang tadinya cukup kondusif, aman, dan nyaman, sontak porak-poranda akibat ulah segelintir manusia yang telah mengoyak ranah sensitifitas yang selama ini dijaga. Tatanan kebhinekaan, dihancurkan oleh isu-isu propaganda yang menjadi viral dan menjadi konsumsi umum.

Globlalisasi dan reformasi yang diharapkan mampu memberikan wajah baru, ternyata berdampak pada ke-bablas-an.  Tak sedikit fungsi media dijadikan kepentingan segelintir manusia yang orientasinya jauh dari membangun peradaban.

Kebebasan berserikat dan mengeluarkan aspirasi pun kemudian menjadi dalih atas apa yang mereka suarakan, tanpa mempedulikan bahwa suara mereka, berdampak bagi kondusifitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang mereka tahu dan mau, bersuara selantang-lantangnya dan berpendapat sekuat-kuatnya. Entah benar atau salah, itu menjadi nomor urutan wassalam.

Reformasi menghadirkan kesuburan media layaknya jamur di musim penghujan. Cetak maupun online bermunculan seiring kebebasan pers yang telah diputuskan. Kemerdekaan menyatakan pendapat di muka umum, kembali menjadi senjata pamungkas, agar negara tidak bisa memasung dan membatasi kemerdekaan bersuara dan berpendapat.

Di era reformasi, media menduduki peran yang sangat penting dan istimewa. Selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif, media disebut sebagai pilar ke empat demokrasi yang memiliki keistimewaan sebagai medium untuk mengontrol dan mengawasi pemerintahan, membentuk pola-pikir masyarakat, dan sarana yang turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan, tak sedikit media yang justru berperan sebagai penghancur sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada akhirnya, gangguan kamtibmas tak hanya seputar kriminalitas belaka, keresahan dan kemarahan masyarakat yang didapat dari suguhan berita kurang bertanggungjawab, juga dapat menyebabkan terganggunya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kelangsungan hidup bermasyarakat.

Mari menjadi bangsa yang bijak berpendapat, bersuara, dan bersosial media.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *