Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Melawan Hoax dengan Pola Pikir

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata membawa pada hal kontradiktif. Positif dan negatif. Pasalnya, masih banyak masyarakat kurang menyadari bahwa yang dilakukan ternyata salah. Atau, sebaliknya. Meski tahu yang dilakukan salah, mereka tetap mengedepankan sikap acuh atau apatis.

Jika padangan manusia sudah apatis terhadap apa yang dilakukan, maka akan bermuara pada kerusakan moral serta tatanan kehidupan. Mereka juga akan terjebak oleh model pemikiran pendek, yang menganggap biasa atas terjadinya tindakan amoral dan kriminalitas.

Seiring negeri ini menyongsong  pesta demokrasi, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019, issu-issu menghangat pun bermunculan ke permukaan. Dari tujuh kontainer yang berisi kertas suara yang telah dicoblos, hingga fenomena artis yang ‘menjemput rezeki 2019’ di Surabaya, tak pelak menjadi perbincangan dan kegaduhan di dunia nyata dan maya.

Seolah tak ada habisnya, Indonesia terus diguyur berbagai fenomena. Sabda alam berupa musibah hingga semakin merjalelanya hoax, seolah menjadi pembukti atas ucapan Bapak Proklamator Indonesia; musuh terberat bukanlah melawan penjajah, akan tetapi melawan bangsa sendiri.

Baca selengkapnya

Polri di Tengah Pusaran Revolusi Industri dan Sosial Media

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

Memasuki  revolusi industri yang tak terelakan, banyak elemen-elemen di dunia yang sudah mulai menyesuaikan diri. Begitupun tak terkecuali dengan elemen-elemen negara, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Perkembangan media sosial  semakin tak terbendung. Yang awalnya, hanya digunakan memajang foto serta komunikasi via tulisan, sekarang hampir semua media sosial bisa digunakan komunikasi dengan cara video call. Begitupun, sisi penggunanya, jika dulu hanya menyasar kalangan menengah ke atas, kini hampir semua kalangan menjadi pengguna serta penikmat media sosial.

Memasuki  revolusi industri yang tak terelakan, banyak elemen-elemen di dunia yang sudah mulai menyesuaikan diri. Begitupun tak terkecuali dengan elemen-elemen negara, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Arus informasi memang sudah luas dan lebat penyebarannnya. Hal itu tentu akan menggerus siapa saja yang tidak bisa menyesuaikan. Belum lagi, atmosfir kehidupan yang perlahan telah memasuki revolusi industri 4.0, menuntut manusia untuk saling terintegrasi dalam alat bernama teknologi.

Baca selengkapnya

Catatan Akhir Tahun Sang Jenderal di Garis Promoter

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

10 September 2018

Instagaram ‘Jenderal di Garis Promoter’ kami luncurkan. Tentu, menjadi suatu kebanggan bagi kami bisa berinteraksi dengan smart netizen Indonesia. Dalam kurun waktu empat bulan, kami pun berusaha memberikan konten-konten yang mengedukasi sekaligus berupaya untuk berbagi.

Menyusul satu bulan pasca diluncurkannya Instagram, 17 Oktober 2018, kami meluncurkan website dengan nama serupa; jenderaldigarispromoter.com, dengan tujuan tak jauh berbeda dengan instagram; saling mengedukasi, berbagi dan menginspirasi.

Baca selengkapnya

Integritas: Komitmen, Kejujuran, dan Keteladanan



Taruna Akademi Kepolisian, agar sungguh-sungguh mengikuti seluruh program pendidikan dan pelatihan. Berbagai pengetahuan, keterampilan, serta penguasaan teknis dan taktis profesi kepolisian menjadi sangat berguna bagi pelaksanaan tugas di medan pengabdian yang semakin menantang.

Perbaikan demi perbaikan harus terus dilakukan, agar polri menjadi tangguh, kuat, hingga melahirkan institusi yang profesional, modern, dan terpercaya, seperti yang dicanangkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi. H.M. Drs. Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Perubahan tetap terjadi sebagaimana hal itu merupakan langkah dalam kehidupan. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Cepat atau lambat, segala sesuatu harus berubah guna melakukan suatu perbaikan. Tidak hanya berubah dari segi teknologi, metode, ataupun suatu sistem semata. Namun, hal yang lebih penting adalah melakukan perubahan yang dimulai dari pola pikir manusianya.

Tak ada satu manusia yang dapat menghalangi perubahan. Perubahan merupakan bagian kehidupan manusia yang tak bisa dipisahkan. Suatu perubahan yang terjadi, tentu tidak menampik dapat mempengaruhi kehidupan yang tadinya dianggap normal. Sehingga, untuk mengantisipasi suatu perubahan yang tidak bisa ditolak, dibutuhkan pemikiran alternatif berikut system yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang acap kali terjadi di dalam perubahan, sehingga implementasinya dapat dilakukan dengan cara yang baik dan tepat.

Baca selengkapnya

Promoter Mengantarkan Humas menjadi Pilar ke Enam Polri


Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana sedang diwawancarai awak media dari beritasatu.com

Seiring lahirnya globalisasi dan informasi, kebangsaan dalam kebhinekaan di negeri ini mengalami kehangatan. Faktornya, tidak jauh berbeda dengan masa-masa lampau. Hanya saja—yang membedakan ‘suasana hangat’ era kini dengan masa lampau adalah sistem penyebarannya.  Selain ditambah perbedaan pandangan terhadap politik, ‘suasana hangat’ yang masih menyelimuti negeri ini masih seputar hal yang sama; suku, ras, budaya, hingga agama. Terlebih lagi, di era modern yang dimudahkan dengan teknologi dan informasi, sensitifitas yang harusnya dijaga, tak pelak mencuat ke permukaan media. Faktanya, tatanan yang tadinya kondusif, aman, dan nyaman, sontak porak-poranda akibat ulah segelintir manusia yang telah mengoyak ranah sensitifitas yang selama ini telah dijaga. Tatanan kebhinekaan tak pelak ingin dihancurkan oleh isu-isu propaganda yang menjadi viral dan konsumsi umum.

Berbagai issu membuncah bak lahar gunung merapi membanjiri pelosok negeri, yang kemudian menyebabkan tatanan kebhinekaan rusak dikarenkan berita yang disebar oleh media yang diciptakan orang tak bertanggungjawab.

Globlalisasi dan reformasi yang diharapkan mampu memberikan wajah baru—mengubah keterikatan menjadi kebebasan—ternyata berdampak ke-bablas-an. Media dijadikan kepentingan segelintir manusia yang orientasinya jauh dari membangun peradaban. Bagi manusia tak bertanggungjawab—media hanya menebar kebohongan berikut mengumbar ujaran kebencian.

Baca selengkapnya