Mindset dan Culture Set Polri di Era Reformasi

– Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana –
Polri siap menjawab tantangan dengan terus melakukan pembenahan mental dan kompetensi, pembenahan organisasi, teknologi kepolisian, sarpras, sistem management, dan peningkatan patnership
____________________
 



Kamis, 29 November 2018

Saya mendapatkan perintah dari Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, untuk menggantikan beliau sebagai narasumber di rapat koordinasi Kemenkumham di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Pada acara tersebut, saya sampaikan materi tentang mindset dan culture set di lingkungan organisasi Polri di hadapan Dirjen Imigrasi IJP (P) Drs. Ronnie F. Sompie, Para Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham, Para Kepala Divisi Kemenkumham, Perwakilan Ombudsman wilayah Indonesia, dan tiga ratus perserta rapat koordinasi Kemenkumham.

Pada pembukaan sebagai narasumber, saya menyampaikan ke hadirin menganai sejarah pemisahan Polri dengan TNI, yang pemisahan itu dilatarbelakangi tujuan mulia sebagaimana kala itu—17 Agustus1998—Presiden BJ Habibie mencanangkan program kemandirian Polri dengan melakukan pelepasan Polri dari organisasi ABRI.  

Pemisahan Polri dengan TNI, tentu adanya iktikad baik Presiden Ketiga itu. Dengan pemisahan itupula, Presiden BJ Habibie berharap agar Polri bisa lebih mampu memenuhi fungsinya sebagai penegak hukum dan pengayom masyarakat tanpa intervensi dari berbagai kepentingan luar, termasuk pemerintah dan pimpinan ABRI.

Tekad politik pemerintah tersebut segera ditindaklanjuti dengan peresmian kemandirian Polri pada 1 April 1999 melalui Inpres No. 2 tahun 1999 tentang langkah-langkah kebijakan dalam rangka pemisahan Polri dari ABRI, yang selanjutnya menjadi landasan formal bagi reformasi Polri.1 April 1999

Berdasarkan Inpres tersebut, sistem dan penyelenggaraan pembinaan kekuatan dan operasional Polri dialihkan ke Dephankam, yang selanjutnya menjadi titik awal dimulainya proses reformasi Polri secara menyeluruh menuju Polri yang profesional dan mandiri serta sesuai tuntutan dan harapan masyarakat. Dalam sidang tahunan, Agustus 2000, MPR pun kemudian menetapkan dua buah Tap MPR:

Tag

2 tanggapan pada “Mindset dan Culture Set Polri di Era Reformasi

  1. mas, saya mau bertanya, saya mau berusia 22 tahun, apa boleh saya mendaftar polisi

    saya juga mau bertanya

    saya lulusan SMA tapi SMP nya paket B , karena waktu itu saya trauma di sekolah, apa boleh saya daftar polisi

    terima kasih sebelumnya

  2. Selamat malam
    Bpk kepolisian

    Nama saya zulfikar firdaus
    Sya ingin melapor bahwa ada sudah hampir 7x saya melaporkan kasus narkoba secara situs/web/email tetapi tidak di tanggapi mengenai 11 orng pengguna narkoba di petojo sabangan.3 yg selalu gak takut sma hukum..sampai-sampai memakai ganja di pabrik yg bernama firslove yg gak asing bernama:

    1.apang raja dan yg sering di bebaskanbila di tahan oleh bandar narkoba
    2.anuk ,yg selalu ajak teman memakai narkoba di rmh bersama 8.orang lain yaitu .., tomson,boaz,arli,cekok,abai darat,,zikri embe,eby,dede..
    Pemakai di kawasan petojo sabangan.3

    Dan mereka gak takut karna mereka mudah bebas oleh anak buah bandar..tetapi nma nya sya tidak tau..yg jelas 12.orang ini sya lapor lewat email/webset/online/aplikasi..tetapi tidak di respon oleh pihak kepolisian..

    Selebihya sya serahkan kpd bpk kepolisian..salam dan
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *