Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Menyongsong Ekonomi Nasional Bersama Millenials

– Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana –
Demikianlah waktu yang kian terus bergerak hingga melahirkan era baru dalam setiap generasinya. Generasi lama berlalu, kemudian datanglah generasi baru, begitulah seterusnya
____________________

Era Millenial telah tiba. Sebanyak 63 juta penduduk Indonesia usia 20-35 tahun akan memasuki era ini. Pada era millenial seperti saat ini,  mereka merupakan bagian dari tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.  Terlebih lagi, di saat Indonesia mempunyai mimpi untuk menjadi negara dengan penghasilan tertinggi pada tahun 2045. Para millenial  tentu saja harus mendapat perhatian dari pemerintah—tanpa  tak terkecuali Polri—agar mereka dapat terdorong menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia.

Demikianlah waktu yang kian terus bergerak hingga melahirkan era baru dalam setiap generasinya. Generasi lama berlalu, kemudian datanglah generasi baru, begitulah seterusnya.

Dari perubahan zaman, tentu ada satu hal dasar yang perlu dipersiapkan secara matang; penanaman kembali nilai-nilai serta tradisi-tradisi luhur kepada generasi yang telah memasuki era millenial ini. Dan Polri mempunyai tugas sebagai suri tauladan dalam hal itu. Agar para millenial tidak terjerumus dalam tindakan-tindakan amoral.

Untuk mewujudkan generasi millenial  serta  tidak menjadi penghambat atau penghalang atas tujuan negara yang menginginkan masyarakat usia produktif—antara 20-35 tahun—bisa menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia, tentu dibutuhkan satu kesatuan soliditas antara Polri dengan masyarakat—sebagaimana hal tersebut merupakan dua sistem yang saling melengkapi, meski keduanya memiliki fungsi dan aktivitas karakteristik masing-masing.

Promoter Kapolri yang kemudian menjadi visi Markas Besar Polri telah nyata dan jelas. Dengan adanya perkembangan zaman, Polri dituntut untuk tidak tinggal diam dengan adanya perubahan zaman.

Dengan adanya konsekuensi berupa perubahan zaman tersebut, penanganan pelayanan, pelindungan dan pengayoman terhadap masyarakat tentu mengalami perubahan. Begitupun dengan penumpasan terhadap kejahatan, tentu mengalami role mode. Pasalnya, fakta di lapangan, ragam kejahatan pun mengalami perubahan. Kejahatan gendam, misalnya, yang dulu acap terjadi. Seiring dengan perkembangan zaman, kejahatan dengan modus operandi penipuan pun mengalami pergeseran. Kejahatan yang tadinya menggunakan semacam magic, telah bergeser menjadi kejahatan dengan jenis penipuan menggunakan selluler atau kupon berhadiah dengan iming-iming pelaku meminta imbalan kepada korbannya.

Polri  meyakini bahwa perubahan merupakan keniscayaan hidup yang tidak bisa dielakkan. Karena perubahan sangat cepat, Polri pun tidak mau ketinggalan dengan perubahan itu. Dengan gendereng Promoter sebagai pengejwantahan Professional, modern, dan terpercaya, Polri terus berusaha fleksibel dan cakap dalam menghadapi perubahan zaman yaang serat akan informasi dan teknologi ini.

Sebagai representatif negara dan mengawal cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara, Polri akan berada di garis paling depan untuk mensukseskannya dengan menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Namun demikian, Polri sangat meyakini, pengawalan akan cita-cita berbangsa dan bernegara—terlebih lagi di era millenial ini—tidak akan berhasil apabila sesama elemen bangsa tidak menghadirkan kesadaran dalam diri masing-masing akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan. Maka daripada itu, dikarenakan persatuan dan kesatuan merupakan faktor yang sangat penting di dalam roda pembangunan sumber daya manusia maupun infrastruktur, Polri dengan segenap tenaga  terus melakukan upaya preventif dengan salah satu upaya tersebut melakukan himbuaan serta seruan melalui teknologi, juga melakukan aksi langsung atas reaksi masyarakat yang telah melakukan penyelewengan.

Semua harus seiring dan sejalan. Sebagai representatif negara yang tugsnya menjadi pelayan, pelindung, dan pengayom, Polri tidak bisa mengawal cita-cita bangsa dan negara dengan sendiri. Dibutuhkan berbagai element—terutama masyarakat—untuk bersama Polri berkomitmen untuk menggapai cita-cita bangsa dan negara, sebagaimana di era millenial ini sudah seyogyanya Indonesia lebih mampu menjadi negara yang berkekuatan ekonomi sosial agarlebih bisa melaksanakan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

.

Tag ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *