Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Menjaga Generasi Bangsa dari Jerat Narkoba

Menjadi manusia itu anugerah. Terlebih, dengan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi-Nya. Tentunya, menjadi khalifah merupakan tugas yang mulia. Tugas yang tak semua mahluk Tuhan mau menerimanya. Bumi, gunung, awan, matahari, bahkan malaikat, konon menolak tugas sebagai pemimpin. Memang, tak salah dengan penolakan mereka. Toh, ditugaskan sebagai pemimpin bukan perkara bersabda di belakang meja. Menjadi pemimpin tentu sangat berat dan serat akan konsekuensinya. Jika baik suatu masyarakat, maka niscaya Tuhan pun mengangkat derajat pemimpinnya. Begitupun sebaliknya, jika rusak suatu kaum, maka jatuhlah harkat dan martabat seorang pemimpinnya. Singkat kata, semua orang adalah pemimpin. Jika bukan untuk umat atau masyarakat, maka kewajiban memimpin tetap berlaku atas dirinya yang juga akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kepemimpinanny

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana sedang melakukan pemusnahan narkotika bersama tokoh Forpimda Kalimantan Selatan

Memimpin organisasi tak ubah memimpin diri sendiri. Beda skalanya saja. Jika memimpin organisasi, yang dipimpin adalah orang banyak. Akan beda halnya jika memimpin diri sendiri. Namun demikian, kendati memimpin diri sendiri tergolong skala kecil, bukan berarti tiadanya suatu perjuangan. Toh, pada kenyatannya, memimpin diri sendiri adalah perjuangan yang sangat berat, bukan? Itulah mengapa, Nabi Muhammad SAW mengatakan pada sahabatnya bahwa peperangan yang dilakukan selama ini, bukanlah peperangan besar akan tetapi peperangan kecil sedangkan peperangan besar adalah melawan diri sendiri. Sabda itupun kemudian diteruskan oleh Bung Karno. Bapak Proklamator itu mengatakan bahwa peperangan yang terberat bukan melawan penjajah, akan tetapi melawan bangsa sendiri. Hingga, tahun pun berganti. Apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW demikian benar adanya. Pun, apa yang disampaikan Bung Karno, tak meleset di zaman yang dipenuhi dengan teknologi dan kemudahan informasi.  

Ini adalah zaman teknologi dan informasi yang tentu saja serat akan tantangan. Dengan adanya teknologi, kegiataan manusia tentu semakin mudah. Begitupun dengan dampak yang dibawa oleh teknologi, semakin memudahkan peperangan dan penjajahan masuk ke negeri ini hingga diri sendiri. Memang terasa naif bila menyalahkan teknologi. Toh, walau bagaimana pun, teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia. Namun, yang sangat disayangkan adalah ketika teknologi disalahgunakan. Kemudahan komunikasi tak hanya dipakai untuk menyambung silaturahmi. Jauh daripada itu, teknologi dan kemudahan komunikasi dijadikan sarana guna memancing permusuhan dan dijadikan sarana jual beli hal yang terlarang. Lihat saja, bagaimana isi sosial media orang Indonesia setiap hari? Hujat, fitnah, hingga transaksi obat-obatan terjadi melalui kecanggihan teknologi dan kemudahan berkomunikasi.

Negeri ini memang sudah merdeka. Penjajah pun sudah hengkang begitu lamanya. Kekhawatiran, ketakutan, hingga kematian akibat peluru penjajah, memang sudah tidak ada. Tapi, lihatlah bagaimana orasi Bung Karno telah terjadi pada bangsa di negeri ini. Bila sedetik saja tak memaki, seolah tak ada kelengkapan dalam hidup mereka. Ironisnya, lemparan hujat, maki, dan fitnah, tak dirudalkan ke bangsa lain, akan tetapi disarangkan ke sesama anak bangsa.

Lihatlah, bagaimana generasi bangsa ini sudah terlena dengan glamornya dunia. Di sosial media, fenomena anak yang masih duduk di bangku sekolah—yang seharusnya belajar—tak pelak mengisi kemerdekaan dengan hujat dan maki, bukan dengan prestasi. Bahkan, yang lebih mengironiskan, mereka sudah mengenal hal yang dilarang agama dan negara. Minuman keras, obat-obatan, bahkan pergaulan bebas.

Di sinilah letak penting peran manusia dewasa dalam menjaga  dan mengawal generasi bangsa. Orangtua, guru, pemerintah, hingga kepolisian memiliki peran penting terhadap kelangsungan generasi bangsa yang notabene kelangsungan bangsa dan negara ini. Jika mereka rusak, maka bisa dipastikan negara dan bangsa ini tidak akan punya masa dapan, dikarenakan generasi penerusnya sudah tumbang dan tak berdaya karena telah digrogoti oleh pikiran busuk dan obat-obatan terlarang.

Perihal beredarnya narkoba bukan suatu hal asing di telinga masyarakat Indonesia. Nyaris, setiap hari kita disuguhi pemberitaan terkait akan obat yang merusak saraf otak tersebut. Namun, begitulah realitanya. Peredaran itu masih saja terus terjadi kendati mengalami penyurutan.

Mati satu tumbuh seribu. Esa hilang dua terbilang. Begitulah perumpamaan yang harus dilakukan untuk menjaga generasi bangsa. Setiap orang dewasa, sudah seyogyanya menjaga mereka untuk kelangsungan bangsa dan negara ini. Kepolisian sebagaimana respresentatif negara, juga terus berinovasi melakukan upaya demi hilangnya narkoba. Apapun pun caranya, perang melawan narkoba guna menjaga generasi bangsa harus dilakukan dengan berbagai cara meski harus bersosialisasi ke lubang semut sekali pun.

Fakta tak terbantahkan lagi adalah ketika saya menahkodai Polda Kalimantan Selatan dan melakukan pemberantasan jaringan narkoba di bumi Lambung Mangkurat. Pada saat melakukan pemusnahaan narkoba dan miras, Polda Kalimantan Selatan telah mengantongi data bahwa peredaran benda haram tersebut memang sangat signifikan.Tercatat dalam data kami saat pemusnahan barang bukti hasil ungkap kasus narkoba terdapat 7.320.000 Butir narkoba golongan IV daftar G, yang telah dimusnahkan oleh Polda Kalimantan Selatan.

Tugas memberantas narkoba tak hanya tanggungjawab kepolisian semata, akan tapi turut menjadi tanggungjawab semua element yang ada—dan penambahan kurikulum tentang bahaya narkoba sudah seyogyanya ada di setiap lembaga pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *