Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Melawan Politisisasi Musibah dan Agama

Demikian kiranya, Inspektur Jenderal Polisi itu menaruh perhatian terhadap hoax dan hate speech, yang belakangan marak terjadi. Kiranya, memang demikian kebenaran atas apa yang disampaikan Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana. Di zaman modern seperti saat ini, asupan informasi nyaris tak bisa ditolak. Suka maupun tidak, informasi akan selalu datang meski tak diundang. Begitupun kecanggihan teknologi, tak dipungkiri menjadi alat yang selalu siap mengantarkan berbagai menu suguhan informasi.

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana mengadakan deklarasi anti hoax dan hate speech bersama tokoh masyarakat Kalimantan Selatan 

Tak mengapa bila yang diantar adalah informasi menyehatkan. Namun, yang terjadi pada saat ini, justru kebalikannya. Setiap hari selalu ada suguhan informasi yang dapat memperburuk perkembangan pikiran hingga jiwa masyarakat.

Sebenarnya, hoax maupun hate speech, tidak terjadi di-era modern saja. Informasi bohong dan ujaran kebencian, juga terjadi di zaman bahuela. Hanya saja, yang membedakan hoax  dan hate speech  di zaman dahulu dan sekarang adalah cara penyebarannya. Jika zaman dulu, hoax ataupun hate speech disebarkan dari mulut ke mulut dan penyebarannya membutuhkan waktu cukup lama.

Beda dengan zaman sekarang. Gadget yang tanpa filter, berikut mudahnya masyarakat membuat pemberitaan—mengenai diri maupun lingkungan sekitar—merupakan salah satu cara dari mudahnya informasi tersebut terseba

Era modern yang seharusnya dijadikan pengembangan diri, ternyata malah sebaliknya. Di tengah mereka yang sukses mendayagunakan teknologi dan inforrmasi, ternyata tak sedikit dari masyarakat yang justru menggunakan gadget-nya untuk menebar kecemasan dan ketakutan. Lebih lagi, mereka tak segan mempolitisasi setiap kejadian yang melanda. Politisasi agama hingga musibah, tak pelak disuguhkan oleh manusia-manusia tak bertanggungjawab. Dan, media sosial, tak bisa menghindar dari tangan manusia semacam itu. Melalui media sosial manusia tak bertanggungjawab itu masyarakat pun disuguhkan informasi yang telah dicampuri virus. Dampaknya, kecemasan, ketakutan, hingga hujat sesama anak bangsa, menghiasi hari-hari di sosial media.Politisasi musibah pun marak berseliweran di sosial media. Gempa di Lombok, Palu, dan Lion Air yang terjatuh selepas lepas landas dari Ibukota, menjadi racikan politisasi manusia tak bertanggungjawab, yang dengan bangga menyuguhkan rangkaian kata bahwa bencana itu terjadi karena salah pemerintah. Entah di mana simpati dan empati mereka ditanggalkan. 

Seharusnya, mereka bisa berpikir sedikit saja. Siapa yang mau ditimpa gempa ataupun jatuh dari pesawat? Begitupun pihak pemerintah yang wilayahnya terkena gempa, apakah memang berniat mengundang gejolak alam itu? Dan, apakah pihak maskapai berniat merusakan pesawat agar musibah datang begitu mengudara?

Tentu, tidak!

Semua tak lain karena suratan. Dalam suratan tak ada yang namanya korban, termasuk ketika manusia meninggal dunia. Manusia bukan korban dari penyebab kematian, yang selama ini dipegang teguh kebanyakan masyarakat. Mati karena sakit jantung, asma, paru-paru, atau penyebab lainnya. Jika memang kematian karena musibah adalah ‘korban’, mengapa kematian akibat sakit atau terpeleset, tidak disebut sebagai musibah. Bukankah mereka mati karena ada penyebab, layaknya mereka yang kembali pada Tuhan dengan lantaran musibah; gempa, tsunami, atau jatuh dari pesawat?

Jatuhnya pesawat karena kehilangan kontak setelah mengudara, tak hanya dialami Lion Air JT-610 dengan tujuan Jakarta-Pangkal Pinang. Hal serupa pernah dialami oleh maskapai luar negeri. Pada tanggal 19 Mei 2016, pesawat EgyptAir M S804, juga mengalami hal yang sama. Pesawat yang bertolak dari Paris menuju Kairo itu menghilang 80 mil pada ketinggian 37.000 kaki—hilang kontak pasca sepuluh menit setelah lepas landas. Selain EgypAir M S804, ada lagi pesawat yang mengalami musibah ketika telah mengudara—11 April 2018, kapal milter milik Rusia, dinyatakan jatuh dekat pangkalan udara Boufarik.

Kalau mau menelaah sedikit saja, pesawat jatuh ataupun musibah alam, bukan hanya kali ini terjadi. Di dalam negeri maupun luar negeri, pesawat jatuh—komersil ataupun nonkomersil—juga pernah terjadi. Begitupun musibah alam, juga pernah terjadi di negera belahan dunia.

Tak ada satu manusia yang ingin mengalami musibah. Namun, begitulah kenyataannya. Diminta ataupun tidak, jika sudah digariskan, maka itulah yang terjadi. Itulah mengapa manusia diberi akal dan iman, agar bisa berpikir dan percaya kepada Tuhan, bahwa apapun yang terjadi tak lain karena kehendak-Nya.

Sebagai bangsa yang besar, seharusnya lebih mengedepankan kepala dingin sebelum membuncahkan kata panas yang akhirnya membahayakan diri maupun oranglain. Sebagai bangsa yang diwarisi Bhineka Tunggal Ika, seharusnya lebih bisa menjadi penghibur duka lara dan bukan sebaliknya, yang dengan sukacita mempolitisasi segalanya.

Tapi, begitulah ketika hoax datang menyapa. Ia dicipta oleh seorang, disebar oleh sekelompok, dan dinikmati oleh mereka yang merasa terwakili. Benar atau salah, sharing tak lagi penting. Selama informasi itu mewakili, maka selama itu manusia-manusia tak bertanggungjawab akan terus menyebar ketakutan dan kecemasan. Hoax, ujaran kebencian, politisasi musibah hingga agama, tengah menghiasi negeri ini. Virus-virus itu diciptakan untuk menerbar kecemasan, ketakutan, hujat-maki, hingga fitnah.

Kapan mereka selesai menciptakan hoax?

Jawabanya ada di tangan kita semua. Apakah mau terus makan dan membagikan virus mematikan itu, atau melawan dengan menciptakan ‘anti virus’ dengan cara: bekerja giat, berkarya, saring sebelum sharing, dan yang terpenting terus berkarya untuk masyarakat, bangsa, dan negara, sebagai penyempurna agama.

Lagipula, bukankah agama mengajarkan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka bermanfaat bagi sesama? Bukankah leluhur juga mengajarkan, sebagai anak bangsa harus memayu hayunging bawono?  Jika demikian ajarannya, mengapa masih suka menciptakan dan menyebarkan  hoax, hate speech, fitnah, yang notabene semua itu lebih kejam dari bom atum ataupun nuklir?

Berhentilah menciptakan hoax. Jangan teruskan mengkembangbiakan ujaran kebencian. Hentikan mempolitisasi musibah dan segala bentuk fenomena alam. Keamanan dan ketertiban negeri ini, bukan semata tugas pemerintah, akan tetapi tugas semua anak bangsa.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *