Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Melawan Hoax dengan Pola Pikir

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana –
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata membawa pada hal kontradiktif. Positif dan negatif. Pasalnya, masih banyak masyarakat kurang menyadari bahwa yang dilakukan ternyata salah. Atau, sebaliknya. Meski tahu yang dilakukan salah, mereka tetap mengedepankan sikap acuh atau apatis
______________________

Jika padangan manusia sudah apatis terhadap apa yang dilakukan, maka akan bermuara pada kerusakan moral serta tatanan kehidupan. Mereka juga akan terjebak oleh model pemikiran pendek, yang menganggap biasa atas terjadinya tindakan amoral dan kriminalitas.

Seiring negeri ini menyongsong  pesta demokrasi, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019, issu-issu menghangat pun bermunculan ke permukaan. Dari tujuh kontainer yang berisi kertas suara yang telah dicoblos, hingga fenomena artis yang ‘menjemput rezeki 2019’ di Surabaya, tak pelak menjadi perbincangan dan kegaduhan di dunia nyata dan maya.

Seolah tak ada habisnya, Indonesia terus diguyur berbagai fenomena. Sabda alam berupa musibah hingga semakin merjalelanya hoax, seolah menjadi pembukti atas ucapan Bapak Proklamator Indonesia; musuh terberat bukanlah melawan penjajah, akan tetapi melawan bangsa sendiri.

 Musibah yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia pun  tak pelak dijadikan ‘gorengan’ oleh bahwa sebab musibah yang terjadi karena kesalahan sejumlah manusia bernama ‘Fulan’. Tsunami, Gempa, Banjir, dan berbagai fenomena alam yang terjadi di Indonesia, menjadi santapan empuk sejumlah manusia yang gemar memasak kesedihan menjadi menu hidangan kepentingan mereka.

Indonesia tak jauh berbeda dengan negeri lainnya yang juga pernah mengalami musibah berupa bencana. Namun, mereka—negeri di luar sana—tidak pernah mengaitkan bahwa musibah dikarenakan kesalahan atau karena telah menganiaya si Fulan. Jepang, misalnya. Negeri Sakura itu menjadi langganan musibah Tsunami. Namun, pernahkah mendengar mereka saling menyalahkan dan melimpahkan musibah yang terjadi dikarenakan dosa atau kesalahan seseorang maupun kelompok? Jepang mengajarkan bahwa berbenah dan mencari solusi lebih penting daripada menunjuk jari dan larut mencari kesalahan maupun dosa seseorang ataupun kelompok. Toh, pada hakikatnya, kalau hendak mengatasnamakan musibah yang terjadi dikarenakan salah dan dosa, manusia mana di muka bumi ini yang tak punya salah dan dosa? Jika memang musibah dikarenakan kesalahan dan dosa, maka sudah seharusnya semua manusia saling berintropeksi diri dan bukan  saling menyalahkan.

Belum lagi, hoax yang ditebar di sosial media, yang kemudian memercik kegaduhan publik, merupakan suatu musibah yang dampaknya bisa melebihi dampak terjadinya  banjir, gempa, atau tsunami sekalipun. Mengapa demikian? Karena hoax dapat disebarkan dengan cepat dan berdampak terjadinya ketakutan dan kecemasan masyarakat, yang tidak hanya terjadi di satu wilayah saja, akan tetapi dampak itu bisa menyentuh seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia.  

Bisa dibayangkan, bagaimana hoax lebih dahsyat dapampaknya daripada bencana alam, bukan?

Mengapa hoax bisa demikian berbahaya? Sebab, teknologi, informasi, dan komunikasi di dunia sedang bergerak cepat. Dan, naasnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih baru melek teknologi dan sosial media. Masih banyak di antara masyarakat Indonesia yang masih awam dan tentang apa itu kekebasan di sosial media.

Media sosial memang memberikan kemerdekaan seluas-luasnya kepada para pengguna untuk berekspresi terhadap sikap maupun pandangan hidupnya. Hal demikian, tentu saja tidak salah.

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *