Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Integritas: Komitmen, Kejujuran, dan Keteladanan



Taruna Akademi Kepolisian, agar sungguh-sungguh mengikuti seluruh program pendidikan dan pelatihan. Berbagai pengetahuan, keterampilan, serta penguasaan teknis dan taktis profesi kepolisian menjadi sangat berguna bagi pelaksanaan tugas di medan pengabdian yang semakin menantang.

Perbaikan demi perbaikan harus terus dilakukan, agar polri menjadi tangguh, kuat, hingga melahirkan institusi yang profesional, modern, dan terpercaya, seperti yang dicanangkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi. H.M. Drs. Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Perubahan tetap terjadi sebagaimana hal itu merupakan langkah dalam kehidupan. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Cepat atau lambat, segala sesuatu harus berubah guna melakukan suatu perbaikan. Tidak hanya berubah dari segi teknologi, metode, ataupun suatu sistem semata. Namun, hal yang lebih penting adalah melakukan perubahan yang dimulai dari pola pikir manusianya.

Tak ada satu manusia yang dapat menghalangi perubahan. Perubahan merupakan bagian kehidupan manusia yang tak bisa dipisahkan. Suatu perubahan yang terjadi, tentu tidak menampik dapat mempengaruhi kehidupan yang tadinya dianggap normal. Sehingga, untuk mengantisipasi suatu perubahan yang tidak bisa ditolak, dibutuhkan pemikiran alternatif berikut system yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang acap kali terjadi di dalam perubahan, sehingga implementasinya dapat dilakukan dengan cara yang baik dan tepat.

Beberapa ahli pun mengemukakan pendapatnya tentang suatu perubahan sebagaimana murut Brian Clegg, perubahan merupakan suatu kekuatan yang sangat hebat yang dapat memotivasi atau mendemotivasi. Menurut Jane Flagello, perubahan adalah pertumbuhan, perubahan adalah kesempatan, dan perubahan adalah peningkatan potensi. Begitupun dikatakan oleh Barack Obama, Change is possible because ordinary people do extraordinary things. Namun—dari sekian pendapat para ahli—keniscayaan bahkan perintah melakukan suatu perubahan sangat jelas difirmankan Allah SWT : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka.

Bila merujuk pendapat para ahli—terlebih ditekankan atas perintah Tuhan, maka perubahan yang terjadi merupakan suatu keharusan yang harus diupayakan oleh manusia secara pribadi, organisasi, bahkan negara, untuk menunju perubahan yang melahirkan visi dan misi yang jelas dan bermanfaat. Namun demikian, sebaik apapun visi dan misi dihamparkan, tentu akan hambar bila tidak dijalankan. Walau bagaimana pun, mewujudkan visi dan misi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, untuk mendapatkan kepercayaan dan kemanfaatan seperti halnya yang terjadi di tubuh institusi Polri, seperti halnya disampaikan oleh Irjen Pol. Arief Sulistyanto, bahwa perubahan di dalam internal Polri harus dilakukan. Polri harus berani berbenah diri. Menata dan me-refresh, bahkan mengganti manusia kurang mumpuni dengan insan Tribrata yang teruji dan mampu mambawa institusi polri ke arah citra yang baik.

Di tengah kehidupan yang serba modern, tentu menjadi tantangan yang lebih berat. profesional-an Polri diuji serta dituntut bergerak lebih cepat di tengah kehidupan yang serba mengandalkan teknologi. Visi Kapolri menekan kepada anggota polri untuk melek teknologi, tidak ketinggalan zaman, serta tanggap dan peka di mana masyarakat berada hingga di sosial media sekalipun. Oleh karena itu, guna mencapai serta mewujudkan visi dan misi Kapolri, dibutuhkan sumber daya manusia yang telah teruji, yang mampu menjawab tantangan dari masyarakat, menjaga kesatuan dan kedaulatan negara dengan profesionalisme yang tinggi, kecerdasan modernitas, hingga mampu melahirkan kepercayaan masyarakat.

Salah satu sumber daya organisasi yang memiliki peran penting dalam mencapai tujuannya adalah sumber daya manusia. Begitupun suatu cara yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang unggul dalam persaingan (compatitive advantage) adalah melalui peningkatan modal manusia (human capital) untuk dapat mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah

Era globalisasi yang terjadi dengan cepat, telah memunculkan berbagai dinamika kejahatan berdimensi baru. Realitas tantangan ke depan, harus mampu diatasi agar stabilitas keamanan dapat tetap terjaga. Untuk menghadapi perkembangan zaman dan tantangan yang sedang di depan mata maupun ke depannya, Sumber Daya Manusia Polri menjadi senjata yang paling ampuh untuk menjawab tantangan zaman.

Profesional, berintegritas, dan mampu menguasai bidang tugasnya, menjadi kemutlakan yang harus dipenuhi oleh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, dengan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan dan kemampuan tersebut adalah dengan dilakukannya pelatihan dan pendidikan di lembaga kepolisian.

Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan merupakan tahapan penting yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan upaya pembinaan personel maupun calon personel. Melalui optimalisasi seluruh komponen pendidikan dan disertai desain kurikulum berbasis kompetensi, diharapkan dapat tercipta personel polri berkualitas.

Namuan demikian, saya sangat meyakini, melalui pendidikan yang diselenggarakan dapat menjadi suatu media optimal dalam mentransfer pengetahuan dasar kepolisian, wawasan keilmuan, maupun pembinaan keterampilan khas polri kepada seluruh Taruna, agar output yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang diharapkan.

Begitupula halnya dengan seluruh Taruna Akademi Kepolisian, agar sungguh-sungguh mengikuti seluruh program pendidikan dan pelatihan. Berbagai pengetahuan, keterampilan, serta penguasaan teknis dan taktis profesi kepolisian menjadi sangat berguna bagi pelaksanaan tugas di medan pengabdian yang semakin menantang.

Untuk mempersiapkan fisik dan mental dalam mengikuti pendidikan, menanamkan semangat dan tekad kuat agar agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan memanfaatkan waktu di masa pendidikan dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu pengetahuan dan keterampilan serta memperluas dan menambah wawasan tentang kepolisian. Bangunlah sikap dan jiwa korps antar sesama agar terbangun soliditas polri yang baik.Bangun rasa kebersamaan dan soliditas, serta ciptakan komunikasi yang efektif dengan para pengasuh, instruktur, maupun pelatih.

Tumbuhkembangkan kesadaran bahwa menjadi anggota polri bukan tempat memperoleh pekerjaan, melainkan sebagai ladang pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Bangun budaya pembelajaran yang positif dengan menampilkan keteladanan, sehingga akan terbentuk kultur, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Tanamkan budaya saling asah, asih, dan asuh selama proses pembelajaran, agar dapat menjadi insan bhayangkara yang memiliki jiwa integritas yang tinggi.

Saya sangat menyakini, jika masa pendidikan—masa pembangunan pondasi dasar—bisa berbekal tekad dan kemauan kuat serta motivasi yang tinggi, niscaya para calon pemimpin Polri mampu melaksanakan tugas mulia sebagai pelayan, pelindung, dan pengayoman kepada masyarakat secara profesional dan penuh tanggungjawab serte berintegritas dalam komitmen, kejujuran dan keteladanan.

Demikian kiranya arahan saya sampaikan kepada Taruna Krops Jawa Timur tatkala diselenggarakannya penerimaan Taruna Den 53 tahun 2018, serta sekaligus melakukan penyerahan bapak asuh Taruna Krops Jawa Timur—dari saya kepada Komisaris Polisi Singgamata di hotel bumi Surabaya, 22 Desember 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *