Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Tantangan Humas Polri di Era Sosial Media

Untuk melaksanakan Commander Wish Kapolri—terkait manajemen media—dan kemudian masuknya humas sebagai fungsi keenam utama Polri,  tentu perlu disambut dengan tangan terbuka oleh Polri, terutama Humas, yang bertugas sebagai pengelola informasi dan komunikasi kepada publik

Tidak berbeda dengan peran humas di kelembagaan, yang memiliki tugas di antaranya mengelola media informasi internal, memantau pemberitaan media massa, menjawab surat pembaca, menguasai peraturan pemerintah, menyiapkan tulisan, video, dan menyebarkannya, mengelola media online dan inhouse magazine, membangun jaringan di media sosial, menjalin hubungan baik dengan organisasi lain atau mitra strategis.

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

[Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana]
Media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana membangun branding seperti yang dilakukan negara lain dengan konsep country branding.

Memberdayakan humas sebagai manajemen media, sangat penting untuk menginisiasi personil yang mengawaki bidang kehumasan agar memiliki wawasan luas, cerdas, peka, adaptif, melek teknologi, komunikatif dan informatif,  serta menguasai teknik public speaking hubungan media. Sehingga, apabila organisasi ingin dikenal luas, bercitra positif, dan dapat menciptakan ketertarikan serta kepercayaan publik, maka humas—yang kini menjadi fungsi keenam utama Polri—selalu meng-upgrade diri guna mengoptimalkan fungsinya tanpa terkecuali di media sosial.

Media sosial memiliki fungsi penting untuk membangun citra sosial; individu, kelompok, maupun organisasi. Selain itu, di media sosial juga terdapat kesempatan menulis gagasan, opini, berita dan berbagai hal untuk membangun citra positif—dan hal ini juga bisa dilakukan oleh personel Polri, meskipun bukan personel humas. Satu personel Polri baik, maka personel lain akan kena imbasnya. Begitupun sebaliknya.

Demikian dengan fungsi humas yang tak lain adalah menciptakan jalinan komunikasi dua arah—yang bisa dilakukan secara langsung maupun dengan sarana sosial media, media massa, ataupun media internal milik institusi. Namun, seperti diketahui, media komunikasi yang sangat berkembang pesat untuk saat ini adalah sosial media yang notabene nyaris tidak bisa dibatas oleh geografis pengguna satu dengan lainnya. Oleh karenanya, tak ayal apabila media sosial dijadikan sebagai media kampanye, marketing suatu produk hingga pembangunan citra; personal, kelompok, organisasi, maupun institusi.

Jika dahulu persaingan membangun citra terbatas media cetak—kini media sosial menawarkan efektifitas. Media sosial mempunyai suara yang besar di masyarakat. Perkembangan issu terkini yang dibahas, selalu menjadi trend dan menjadi wahana interaksi pengguna dalam menanggapi issu yang sedang menghangat hingga memanas.  

Fenomena media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana membangun branding seperti yang dilakukan oleh negara lain dengan konsep country branding. Oleh karenanya, peran humas sangat penting dalam upaya membentuk image positif Polri di media sosial.

Terlepas itu, humas harus mengoptimalkan perannya sebagai ‘sales magic kesatuan’ yang mampu mendorong revitalisasi pelayanan di ruang publik, agar terjalin hubungan baik dengan cara interkasi dengan follower atau warganet dengan prinsip giving, conversation, dan listening.

Giving adalah memberi informasi atau konten-konten berupa informasi, inspirasi ataupun tips-tips yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Polri. Semakin banyak humas memberi informasi positif, maka warganet semakin memberikan loyalitas atau trust kepada institusi.

Selanjutnya, untuk menjalin komunikasi yang baik, maka lakukanlah dengan komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah ini mengharuskan humas untuk responsif terhadap masukan, komentar, bahkan curhat dari masyarakat di sosial media. Dengan adanya komunikasi dua arah ini, maka bisa dipastikan terjalin komunikasi antara polri dengan masyarakat secara interaktif.  Selain dua hal tersebut—giving dan conversation, hal yang perlu dibangun oleh humas adalah listening sebagaimana membangun coversation dua arah secara proporsional.

Media sosial menjadi peluang sebagai sarana menyampaikan pelayanan informasi dan komunikasi publik. Di era millenials, teknologi, informasi serta globalisasi, menjadi kewajiban Polri untuk selalu aktif menyampaikan informasi sebagaimana hal itu merupakan salah satu langkah efektif membangun identitas positif secara cepat terkait kinerja Polri.

Baik humas markas besar maupun satuan kerja dapat memperguankan sosial media sebagai aktifitas kinerja sehari-hari dengan konsep  penyampaian ke publik melalui narasi, gambar, dan video dengan sajian berupa sisi aktual, motivasi, dan inspirasi publik.

Di sisi lain, dengan hilangnya sekat antara masyarakat dan Polri di sosial media, maka humas   harus aktif menjawab dan merespon informasi yang berkembang di media sosial sebagai peluang untuk meningkatkan pelayanan dan kepercayaan publik di social media.

Dengan dimasukannya humas menjadi fungsi utama keenam Polri, maka seiring itupula  humas harus senantiasa meng-upgrade diri maupun bidang-nya dengan melakukan pelatihan untuk mempelajari teknik pengemasan informasi yang akan disampaikan ke masyarakat, terjalin komunikasi kreatif melalui suguhan konten-konten yang menginspirasi, mengedukasi, hingga konten membangun kepercayaan publik.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *