Genderang Promoter Lembaga Bhayangkara

– Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana –
Membangun rasa percaya, agar mendapatkan kepercayaan, sehingga bisa tepercaya, tentu lebih sulit ketimbang membangun profesional dan modernisme.
____________________________

Sejak dilantik Jendral Polisi, Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D, menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Promoter terus digenderangkan ke segala penjuru negeri.

Di balik antusias menyambut kelahiran visi dan misi, tak menampik pula diikuti antusias masyarakat atas Commander Wish yang dicanangkan Kapolri Tito Karnavian—yang kemudian dilaksanakan oleh segenap anggota polri di segala penjuru negeri.

Promoter menjadi hastag kegiatan polisi di Indonesia. Bahkan, masyarakat yang bernaung dalam militan kepolisian, turut mengumandangkan visi Kapolri Tito Karnavian—menampakkan hastag promoter atau polribaginegeri di sosial media.

Visi adalah jiwa, roh, nyawa, spiritual organisasi yang tak hanya diperuntukkan kepada manusia semata, akan tetapi ditujukan pula  pada kelembagaan. Suatu lembaga yang notabene dihuni oleh manusia—memiliki jiwa yang berbeda—maka dipersatukanlah dengan visi untuk meraih tujuan organisasi.

Profesionalisme akan memberikan dampak pada pelayanan dan hasil yang pastinya memuaskan. Terlebih, bila dibalut modernisasi sesuai peradaban, tentu akan memberikan pelayanan yang lebih prima dan cepat.

Dengan demikian, bila lembaga bisa menciptakan profesionalisme—rasa puas akan diterima masyarakat. Sehingga, dari apa yang dirasakan publik, bisa terlahirlah sebuah kepercayaan.

Sederhananya, untuk memahami visi Kapolri—untuk mendapatkan public trust—Polri haeus bersifat dan bersikap profesional dengan tidak mengapatiskan peradaban di tengah kehidupan.

Profesional adalah bentuk pelaksanaan disipliner dan menjadi tolak-ukur keberhasilan lembaga, yang disepakati pula oleh masyarakat—pengakuan profesional, tak bisa disepakati sepihak.

BACA JUGA :  3 Poin Utama Buku Jenderal di Garis Promoter

Profesional tak bisa didapatkan serta diwujudkan apabila lembaga tidak membaur dengan peradaban yang terjadi. Lembaga yang profesional, tentu akan meleburkan diri dengan perkembangan zaman.

Mampu memahami, dan turut hadir di tengah masyarakat yang telah berformasi dengan hadirnya teknologi. Membangun rasa percaya, agar mendapatkan kepercayaan, sehingga bisa tepercaya, tentu lebih sulit ketimbang membangun profesional dan modernisme.

Demikian menjadi maksud visi Kapolri Tito Karnavian. Menjadikan kepolisian yang mampu menciptakan profesionalisme, yang sesuai masyarakat di zamannya, sehingga dapat melahirkan institusi yang bersih dan bebas dari KKN, guna terwujudnya penegakan hukum yang obyektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan, demi tercapainya kepercayaan dari masyarakat.

 

Tag ,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *