Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Catatan Akhir Tahun Sang Jenderal di Garis Promoter

Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana

10 September 2018

Instagaram ‘Jenderal di Garis Promoter’ kami luncurkan. Tentu, menjadi suatu kebanggan bagi kami bisa berinteraksi dengan smart netizen Indonesia. Dalam kurun waktu empat bulan, kami pun berusaha memberikan konten-konten yang mengedukasi sekaligus berupaya untuk berbagi.

Menyusul satu bulan pasca diluncurkannya Instagram, 17 Oktober 2018, kami meluncurkan website dengan nama serupa; jenderaldigarispromoter.com, dengan tujuan tak jauh berbeda dengan instagram; saling mengedukasi, berbagi dan menginspirasi.

Begitupun dengan buku-buku yang telah kami luncurkan, Jenderal di Garis Promoter, Sasirangan, Sepenuh Hati, dan Polri Menjawab Tantangan, telah kami hamparkan cuplikannya. Apa yang kami lakukan, tentu bukan suatu hal yang besar. Namun, kami sangat menyadari, suatu hal besar, pastinya dimulai dari hal yang kecil.

Zaman terus bergerak. Inovasi berhamburan di mana-mana. Begitupun dengan etos kehidupan, sudah seyogyanya terus kita kembangkan dari hari ke hari untuk menjawab tantangan zaman yang kian bergerak cepat.

Promoter Kapolri telah mengantarkan instistusi Polri berbenah. Berbagai perkembangan dan peningkatan etos kerja Polri, perlahan-lahan telah membuahkah hasil yang sangat baik. Kedekatan sosial Polri dengan masyarakat kini menjadi tanpa sekat.  

Demikian kami menyadari, untuk menjawab tantangan zaman di tubuh Polri, menjalankan tugas secara professional, modern, dan terpercaya tidak bisa ditanggalkan. Promoter tak hanya dapat digunakan sebagai visi instistusi Polri semata. Jauh daripada itu, tentu Promoter juga bisa diterapkan dalam aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Apapun pekerjaan kita, tentu akan lebih mudah menjawab tantangan apabila di dalam pelaksanaannya dilandasi dengan sikap professional, tahu perkembangan zaman (modern), dan dimuarakan untuk mendapat kepercayaan dari masyarakat, bangsa, dan negara. Pendek kata, tentunya tak mungkin kepercayaan bisa diraih apabila rasa professionalisme ditanggalkan, bukan?

Tahun 2018 akan segara berakhir dan segera digantikan dengan tahun 2019.

Di tahun yang baru, tentu tantangan tidak semakin mudah. Tantangan zaman di era baru, tak akan peduli siapa kita. Bagi yang siap belajar dan menggembleng diri terhadap perkembangan zaman, niscaya akan mudah menjawab tantagan zaman. Namun, sebaliknya, bagi yang bermalas-malasan, selalu mengeluh, tidak disipilin, dan antipati terhadap kemajuan zaman, maka bisa dipastikan akan hanya akan menjadi penonton terhadap kemajuan zaman.

Sosial media telah mengantarkan interaksi tanpa sekat antar pejabat dengan rakyat. Dengan sosial media, rakyat bisa mengawasi pejabat. Begitupun sebaliknya, dengan sosial media pula, pejabat bisa mempererat sinergitas dengan rakyat.

Tahun 2018 telah berkemas untuk meninggalkan kita. Suka maupun duka di tahun ini, sudah seyogyanya dijadikan bahan pembelajaran agar di tahun 2019 bisa lebih baik, termasuk lebih baik dalam membangun sumber daya sebagai manusia yang unggul dan kompetitif, bukan malan sebalihknya; menjadi manusia yang gemar menghujat, memaki, apalagi sampai memfitnah, baik terhadap sosial tempat tinggal maupun sosial bernegara.

 2019 segera datang.

Mari menjadi smart netizen, smart people, dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang dipenuhi oleh generasi bangsa yang membangun dalam segala aspek sendi kehidupan.

Selamat Tahun Baru 2019

Sukses selalu untuk kita semua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *