Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Alasan Dien Albanna Memilih Judul ‘Jenderal di Garis Promoter’

 

Malam Pengantar Tugas Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana sekaligus launching buku ‘Jenderal di Garis Promoter’ dan ‘Sepenuh Hat

“ … Kuranglebih, dua jam dikediaman. Saya katakan ke Dien Albanna, saya punya ide dan ingin judul buku itu membuat orang penasaran. Rupanya, dia nulis Jenderal di Garis Promoter. Luar biasa. Terimaksih, Mas Dien.

-oOo-

Begitulah disampaikan Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana. Pada kesempatan itu, Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana menghamparkan sebuah cerita singkat tentang muasal buku ‘Jenderal di Garis Promoter’, yang telah diterbitkan dan dipersembahkan sebagai cendramata di malam penghantar tugas menuju Markas Besar.

‘Jenderal di Garis Promoter’ bukan buku tebal layaknya novel Harry Potter atau buku tebal lainnya. ‘Jenderal di Garis Promoter’ merupakan buku yang mengulas iktikad seorang pucuk pimpinan di Polda Kalimantan Selatan.

Berbeda dengan buku ‘Sepenuh Hati’ yang ditulis oleh Naniek I. Taufan. Buku ‘Jenderal di Garis Promoter’ tidak setebal itu. Pada buku itu, hanya terdapat tiga garis besar yang disentil oleh Dien Albanna. Sentilan pertama, tentang Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana—yang kala itu masih Brigadir Jenderal—datang ke Polda Kalimantan Selatan. Sentilan kedua, tentang arahan kunjungan kerja atau untaian kata ketika bersama masyarakat. Dan, yang ketiga—inti dari buku itu adalah tentang proses kenaikan tipologi Polda Kalsel.

Selain dapat mengambil pelajaran atas apa yang telah dilakukan Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana, penulis juga menyuguhkan pembelajaran dalam kehidupan secara umum. Mengulas peran keluarga, berkarya, dan yang paling menarik adalah maksud di balik memberikan judul buku tersebut.

‘Jenderal di Garis Promoter’ adalah judul yang terinspirasi dari kisah perjuangan Agen Polisi di tahun 1947, tatkala Agen Polisi itu bertugas di garis Van Mook. Jika pada buku kisah Van Mook, Dien Albanna memberi nama tokohnya Bhayangkara, sedangkan untuk buku yang mengisahkan Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana, ia  menggunakan ‘Jenderal’ sesuai dengan pangkat yang disandangnya. Sedangkan ‘di Garis Promoter’ diambil dari visi Kapolri yang kini tengah dilaksanakan oleh institusi Polri di seluruh tanah air.

Orang bilang, nama adalah doa. Dan …, itu juga yang diyakini Dien Albanna tatkala memberikan nama di setiap karya-karyanya. Begitupun ketika ia memberikan judul di karya keduapuluh tiga-nya. ‘Jenderal di Garis Promoter’ adalah judul buku sekaligus doa Dien Albanna, agar tokoh  di dalam buku tersebut  semakin menjadi abdi Bhayangkara yang professional, mudah merakyat, dan selalu dilimpahkan kepercayaan.

Dien Albanna—dalam bukunya menulis—sudah seharusnya Promoter terus berkibar dan menjadi tujuan institusi Polri kendati kelak Kapolri Tito Karnavian tidak lagi menjabat sebagai pucuk pimpinan.  Bahkan, tak hanya itu saja. Melalui goresan tintanya, Dien Albanna dengan lugas juga menuliskan bahwa Promoter seharusnya bukan menjadi visi kepolisian saja , akan tetapi seyogyanya juga menjadi visi institusi negara lainnya, yang terus mempertahankan dan mengupayakan agar semakin menjadi professional, modern, dan terus mengupayakan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dien Albanna juga menuliskan bahwa Promoter juga bisa diterapkan pada individu. Secara sederhana, bila orang ingin sukses, maka ia harus professional terhadap pekerjaan, komitmen, tekad, atau hal-hal yang bisa mengantarkan dirinya menuju sebuah kesuksesan. Terlebih lagi, di zaman teknologi seperti saat ini—tidak gaptek dan memahami setiap informasi—bisa dijadikan modal meraih kesuksesan.

Pada akhirnya, apapun yang dilakukan oleh manusia—secara individu maupun institusi—tak lain untuk menggapai kesuksesan dalam kepercayaan. Untuk menggapai muara tersebut, tentu tidak semuda membalikkan telapak tangan. Mendisplinkan diri dan berlaku professional serta tidak alergi terhadap perubahan zaman dan mampu memberikan kinerja terbaik, tak lain upaya yang harus dilakukan bila hendak memuarakan tujuan pada kesuksesan yang terpercaya.     

Itulah alasan mengapa Dien Albanna memilih judul ‘Jenderal di Garis Promoter’. Sebab, judul itu mengandung doa dan harapan, agar Sang Jenderal dapat menjalankan pengabdiannya dengan terus meningkatkan kompetensi sebagai abdi Bhayangkara yang berlandaskan kepada kecintaan terhadap masyarkat, bangsa, dan negara. Selain itu, harapan lain terhampar dari judul tersebut adalah agar tokoh yang ada di bukunya itu terus menjadi sosok Jenderal yang tegas, namun tetap mengendepankan humanisme.

‘Jenderal di Garis Promoter’ merupakan buku—yang tak hanya menulis kisah perjalanan Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana menaikankelas-kan Polda Kalimantan Selatan saja, akan tetapi juga buku yang menaruh harap dan mendoakan agar Inspektur Jenderal Polisi Rachmat Mulyana terus menjadi Jenderal yang berjalan di Garis Promoter kendati kelak Promoter tidak diusung sebagai misi kepemimpinan Kapolri baru.

2 gagasan untuk “Alasan Dien Albanna Memilih Judul ‘Jenderal di Garis Promoter’

  • Oktober 30, 2018 pukul 10:45 am
    Permalink

    Aamiin ya Allah semoga kedua anak jendral menjadi pemimpin yang tegas tapi tetap humanis dan profesional.

    Balas
    • Oktober 31, 2018 pukul 6:08 am
      Permalink

      Aamiin Ya Robal Aalamiin. Terimaksih 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *